(+62 21) 225-221-47 / 48 contactus@svta.co.id

Apa Itu Saham?

Saham merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular dan merupakan instrument investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham sama dengan kepemilikan atau dengan nama lainnya “Stock” atau “Share”.

Pengertian Saham

“Share” pernahkah anda sharing dengan saudara atau teman anda untuk kepemilikan sesuatu? Semisal anda ingin membeli seloyang Pizza seharga Rp 100.000 namun anda hanya memiliki uang Rp. 75.000 dan kekurangannya patungan dari teman anda Rp. 25.000. Dengan demikian, kepemilikan 75% bagian dari seloyang pizza merupakan bagian anda, sedangkan 25% bagian lainya merupakan milik teman anda. Dan begitulah istilahnya disebut dengan “Saham”

Jika dalam usaha, memungkinkan sekali terjadinya sharing seperti contoh diatas. Untuk membangun sebuah usaha diperlukan modal. Contohnya untuk membangun sebuah perusahaan ABC membutuhkan modal sejumlah Rp. 100jt, si A menyetor 30jt, si B 30jt & si C 40jt. Maka porsi kepemilikan saham tsb adalah :

A : 30% (30jt / 100jt)

B : 30% (30jt / 100jt)

C : 40% (40jt / 100jt)

Kepemilikan saham dapat dipecah dalam satuan lembar, Pemecahan menjadi xxx Lembar tergantung kesepakatan antar pemilik saham yaitu si A, B & C. Semisal dijadikan 5000 lembar, maka harga atau nilai perlembar disesuaikan menjadi 100jt : 5000 Lembar = Rp.20rb / Lembar.

Saham di Pasar Saham (Bursa)

Jika pada contoh diatas pemilik saham hanya terdiri dari 3 orang saja, berbeda pada pasar saham. Perusahaan-perusahaan dengan kapital besar yang juga membutuhkan modal besar untuk pengembangan usahanya biasanya akan melakukan “Go Public” istilah Go Public diterapkan karena perusahaan tsb akan menjual sebagian sahamnya kepada umum.Perusahaan go public biasanya akan berakhiran Tbk dibelakang nama perusahaannya, Tbk merupakan kepanjangan dari Terbuka, dengan demikian perusahaan tsb terbuka kepadasiapapun untuk menjadi salah satu pemilik dari sahamnya. Sebagai contoh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.

Perusahaan go public menjual sebagian kepemilikan sahamnya via bursa saham, untuk dapat menjual sahamnya di bursa terlebih dahulu perusahaan harus melakukan IPO (Initial Public Offering) – Mungkin akan ada artikel terpisah mengenai apa itu IPO.

Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Kenapa Perusahaan tidak Meminjam Uang untuk pengembangan Usahanya?

Ada banyak pertimbangan mengenai hal ini. Meminjam uang tentu saja akan dikenakan bunga yang tidak kecil, belum lagi jika dana yang dibutuhkan sangat besar akan mengalami kesulitan pula untuk mendapatkan orang atau institusi yang mau meminjamkan uangnya, walaupun Bank sekalipun. Namun jangan salah, bahkan Bank-pun membutuhkan uang lebih untuk pengembangan usahanya. Banyak Bank-Bank di Indonesia turut menjual sebagian kepemilikan sahamnya di bursa, Seperti : BCA, Mandiri, BRI, Bank Jabar dsb. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan.

Alasan perusahaan menjual sebagian sahamnya dibursa salah satunya dikarenakan membutuhkan banyak modal. Biasanya untuk Expand cabang baru atau untuk pengembangan anak usaha lainnya, Dimana tdk memungkinkan jika dijual hanya kepada satu atau dua orang saja.

Keuntungan Apa saja yang akan didapatkan oleh Pemilik Saham?

Jika perusahaan bagus dan mampu mengembangkan usahanya, maka laba yang diperoleh akan sangat besar. Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham:

1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu tertentu hingga berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai – artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham – atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.

2. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.

Sedangkan sebagai salah satu instrument Investasi, saham mempunyai resiko sbb :

1. Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham. Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.

2. Risiko Likuidasi
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.

Jika dalam contoh sebelumnya diatas disebutkan harga perlembar saham Rp. 20rb maka harga tsb tidak akan baku. Dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan.  Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.

Untuk Investasi biasanya orang akan membeli saham lalu menyimpannya dalam jangka waktu yang lama. Namun lebih populer di bursa, kebanyakan orang membeli dan menjual saham begitu saja hanya untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan selisih harga beli dan jual dari kenaikan harga, atau istilah lainnya disebut dengan “Trading”.

*dariberbagai sumber

website Bursa Efek Indonesia : www.idx.co.id

Ingin belajar lebih banyak tentang Saham & Investasi? Join Us!

Pinterest

Share with Your Friend

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *