(+62 21) 225-221-47 / 48 contactus@svta.co.id

Arti Dilusi Saham

dilusi_saham

Belajar Saham : Pengertian Dilusi 

Banyak trader dan investor menggunakan kata terdilusi… Bagi sebagian orang mungkin mengerti, namun bagi sebagian orang awam mungkin masih belum paham maksud dari dilusi.

Nah, apa itu Dilusi ?

Berikut penjelasannya yang diambil dari tulisan oleh Tim BEI, KATA atau istilah dilusi kerap muncul berkaitan dengan aksi korporasi emiten berupa penerbitan saham baru dalam rangka penawaran umum terbatas (right issue) melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) maupun tanpa HMETD.

Dilusi berarti berkurangnya komposisi kepemilikan saham investor akibat adanya penambahan saham baru.Ilustrasi singkatnya begini.

Investor A dan B mendirikan perusahaan PT ABC dengan jumlah modal disetor Rp. 10 miliar yang terdiri dari saham biasa dengan nominal Rp 1.000 per saham.

Dengan begitu, jumlah saham PT ABC adalah 10 juta lembar. Investor A menyetor Rp6 miliar sehingga komposisi kepemilikannya di PT ABC adalah 6 juta lembar saham atau setara dengan 60%, sedangkan investor B menyetor Rp4 miliar sehingga komposisi kepemilkannya adalah 4 juta lembar atau setara dengan 40 persen.

Dalam perjalanan waktu, PT ABC perlu melakukan ekspansi.
Kedua pendiri tersebut sepakat untuk menambah setoran baru dengan menerbitkan saham baru sebanyak 10 juta lembar, sehingga setiap satu saham lama berhak membeli satu saham baru. Dalam rangka penerbitan saham baru ini, investor A kembali menyetor Rp6 miliar sehingga kepemilikannya menjadi 12 juta lembar saham atau 60 persen dari total saham yang diterbitkan.

saham_splitSedangkan investor B tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru sehingga kepemilikannya tetap hanya sebanyak 4 juta lembar saham.Perlu dilihat di sini bahwa jumlah saham investor B tetap 4 juta lembar tapi porsi kepemilikannya menurun drastis sebanyak 50 persen, yaitu dari 40 persen menjadi hanya 20 persen.

Hal ini karena jumlah saham PT ABC yang awalnya adalah 10 juta lembar, kini bertambah dua kali lipat menjadi 20 juta lembar.

Di sini muncul pemegang saham baru yang membeli 4 juta lembar saham jatah investor B tadi. Sebut saja pemegang saham baru tersebut sebagai investor C.

Dengan begitu, setelah penambahan saham baru, jumlah total saham PT ABC menjadi 20 juta lembar dan pemegang saham PT ABC menjadi tiga orang, yakni A, B, dan C.Dalam ilustrasi di atas, penurunan persentase kepemilikan saham yang dialami oleh investor B disebut sebagai dilusi.

 

Porsi kepemilikannya menurun akibat penambahan saham baru dan ia tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru tersebut. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa risiko dilusi hanya akan terjadi jika investor sebagai pemegang saham tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru yang ditawarkan melalui HMETD.

Sementara, dalam kasus rights issue tanpa HMETD, dipastikan bahwa investor akan mengalami dilusi. Sebab, investor tidak diberi hak untuk mempertahankan porsi kepemilikannya. Meski begitu, investor tidak perlu resah dan khawatir karena tidak setiap penawaran umum terbatas bisa dilakukan tanpa HMETD.

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) membatasi emiten untuk melakukan rights issue tanpa HMETD.

Kalaupun ada emiten yang bisa menggelar rights issuetanpa HMETD, maka dampak dilusinya dipastikan tidak akan material.Dalam Peraturan Bapepam-LK No. IX.D.4 disebutkan bahwa emiten bisa melakukan rights issue tanpa HMETD jika dalam jangka waktu dua tahun, penambahan modal tersebut paling banyak 10 persen dari modal disetor, atau jika tujuan utama penambahan modal adalah untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan yang mengalami salah satu kondisi sebagai berikut:

a. Bank yang menerima pinjaman dari Bank Indonesia atau lembaga pemerintah lain yang jumlahnya lebih dari 100% dari modal disetor atau kondisi lain yang dapat mengakibatkan restrukturisasi bank oleh instansi Pemerintah yang berwenang;
b. Perusahaan selain bank yang mempunyai modal kerja bersih negatif dan mempunyai kewajiban melebihi 80 persen dari aset Perusahaan tersebut pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang menyetujui penambahan modal; atau
c. Perusahaan yang gagal atau tidak mampu untuk menghindari kegagalan atas kewajibannya terhadap pemberi pinjaman yang tidak terafiliasi dan jika pemberi pinjaman tidak terafiliasi tersebut menyetujui untuk menerima saham atau obligasi konversi Perusahaan untuk menyelesaikan pinjaman tersebut.Di sini tampak bahwa risiko dilusi bisa dihindari jika pemegang saham menggunakan haknya membeli saham baru yang diterbitkan emiten. (Tim BEI)

saham_banner_TIMC

Pinterest

Share with Your Friend

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *