(+62 21) 225-221-47 / 48 contactus@svta.co.id

Trading Strategy : Fundamental Analysis

svta_saham12Analisa Fundamental merupakan metode analisis yang menggunakan studi tentang keadaan ekonomi, industry dan kondisi perusahaan untuk memperhitungkan nilai wajar dari saham suatu perusahaan.

Analisa fundamental juga menitikberatkan pada data-data kunci dalam laporan keuangan perusahaan untuk memperhitungkan apakah harga saham sudah atau belum diapresiasi secara tepat.

Secara umum untuk menganalisa perusahaan dengan menggunakan analisa fundamental terdiri dari beberapa langkah yaitu :

1. Menghitung Kondisi Ekonomi Secara Keseluruhan

Kondisi ekonomi dipelajari untuk memperhitungkan apakah kondisi ekonomi secara keseluruhan baik atau tidak untuk pasar saham.

Apakah tingkat inflasi tinggi atau rendah? Apakah suku bunga naik atau turun? Apakah konsumen yakin atau ragu-ragu dalam membelanjakan uang? Apakah neraca perdagangan untung atau rugi? Apakah perputaran uang dalam perusahaan tersebut sedang sehat?Ini adalah sebagian dari pertanyaan – pertanyaan seorang analis fundamental untuk memperhitungkan kondisi ekonomi secara keseluruhan, apakah baik atau tidak untuk sebuah pasar saham.

2. Menghitung Kondisi Industri Secara Keseluruhan

Industri dimana perusahaan berada secara langsung mempengaruhi masa depan perusahaan tersebut. Bahkan saham yang paling baik-pun dapat menghasilkan pengembalian yang pas-pasan jika mereka berada dalam sector industri yang sedang payah. Biasanya saham yang lemah dalam sektor industri yang kuat lebih disukai daripada saham yang kuat dalam sektor industri yang lemah.

3. Menghitung Kondisi Perusahaan

Setelah melihat dari sisi ekonomi dan industri kita perlu memperhitungkan kesehatan keuangan sebuah perusahaan. Jika sebuah perusahaan yang telah kita analisa secara ekonomi dan industri itu baik, tapi kita tidak menghitung kondisi perusahaan tersebut maka akan sia-sialah semua analisa fundamental yang kita lakukan.Karena pasar saham adalah pasar ekspetasi dimana semua pemegang saham mengharapkan perusahaannya selalu menghasilkan laba, yang pada akhirnya laba ini akan di bagikan kepada pemegang saham yang kita kenal dengan istilah deviden.

Namun tidak semua pemegang saham mengharapkan pembagian deviden ini karena pada dasarnya keuntungan yang diperoleh dari pasar saham ini bukan hanya deviden, tetapi ada juga yang disebut dengan capital gain yaitu keuntungan yang diperoleh dari fluktuasi harga saham yang biasanya diharapkan oleh investor yang memiliki periode waktu yang pendek.

Menghitung kondisi perusahaan biasanya dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio secara garis besar di bagi dalam 5 kategori utama antara lain, yaitu :

  1. Profitability (Keuntungan)
  2. Price (Harga)
  3. Liquidity ( Likuiditas)
  4. Leverage (dukungan), dan
  5. Efficiency (Efisiensi)

Berikut penjelasan penggunaan rasio dan cara menghitungnya :

a. Net Profit Margin

Net Profit Margin adalah rasio profitabilitas yang dihitung dengan membagi keuntungan bersih dengan total penjualan. Rasio ini menunjukan keuntungan bersih yang diperoleh dengan total penjualan yang dapat diperoleh dari setiap nilai penjualan.

Net Profit Margin = Net Profit / Total Sales

Sebagai ilustrasi, apabila pofit margin sebuah perusahaan adalah 20%, maka jumlah keuntungan yang dapat diperoleh dari setiap Rp 1000,- adalah Rp 200,-

b. Price Earning Ratio (PER)

Price Earning Ratio / PER adalah rasio harga yang dihitung dengan membagi harga saham saat ini dengan Earning Per Share (EPS), EPS sendiri merupakan rasio yang menunjukan berapa besar keuntungan yang diperoleh investor atau pemegang saham per saham.

Semakin tinggi nilai EPS tentu saja merupakan berita bagus bagi para pemegang saham per saham karena semakin besar pula laba yang disediakan untuk pemegang saham. PER menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

EPS = Net Profit / Jumlah Saham

PER = Harga Saham / EPS

PER dihitung dalam satuan kali. Bagi para investor semakin kecil PER suatu saham semakin bagus karena saham tersebut termasuk murah.

c. Book Value / Nilai Buku

Nilai buku adalah rasio nilai harga yang dihitung dengan membagi total aset bersih (asset – hutang) dengan total saham yang beredar. Book Value digunakan untuk melihat harga suatu emiten apakah overpriced atau underprice.

Book Value = Total Ekuitas (Aset – Hutang) / Jumlah Saham yang Beredar

d. Price to Book Value (PBV)

Price to book value atau PBV menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini artinya pasar akan semakin percaya akan prospek perusahaan tersebut.

PBV = Harga Saham / Book Value

e. Current Ratio

Current Ratio adalah rasio likuiditas yang dihitung dengan membagi asset saat ini dengan hutang saat ini.Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab hutang saat ini.

Current Ratio = Aset saat ini / Hutang Saat Ini

Semakin tinggi rasio nya, semakin tinggi likuiditas perusahaan tersebut. Sebagai contoh, rasio 3:0 mempunyai arti bahwa asset saat ini jika di likuiditasi, akan cukup membayar 3 kali dari hutang saat ini.

f. Debt Ratio

Debt Ratio adalah rasio leverage yang di hitung dengan membagi total hutang dengan total asset .

Debt Ratio = Total Hutang / Total Aset

Rasio ini mengukur seberapa banyak asset yang dibiayai oleh hutang. Sebagai contoh, debt ratio 40% menunjukan bahwa 40% dari asset dibiayai oleh hutang.

Hutang bisa berarti buruk bisa juga berarti bagus. Selama ekonomi sulit dan suku bunga tinggi, perusahaan yang memiliki debt ratio yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan, sebaliknya juga selama ekonomi baik dan suku bunga rendah hutang dapat meningkatkan keuntungan.

g. Inventory Turnover

Inventory Turnover adalah rasio efisiensi yang dihitung dengan membagi biaya barang yang terjual dengan inventaris.

Inventory Turnover = Biaya Barang Yang Terjual / Inventaris

Rasio ini menunjukan seberapa efisien perusahaan mengelola inventarisnya, yaitu dengan memberikan laporan berapa kali tingkat pengembalian / turn over inventaris selama satu tahun.

Jenis rasio ini sangat bergantung pada jenis industry dimana perusahaan berada. Sebagai contoh, industri usaha kebutuhan pokok akan mempunyai tingkat nilai pengembalian yang jauh lebih tinggi daripada pabrik perakitan pesawat terbang. Sama seperti rasio-rasio yang lain, adalah penting untuk membandingkan rasio ini dengan rasio dari perusahaan-perusahaan yang lain dalam industri yang sama.

4. Menghitung Nilai Wajar Saham Perusahaan

Setelah memperhitungkan kondisi ekonomi, industri, dan perusahaan, seorang fundamentalis dapat mulai memperhitungkan apakah saham suatu perusahaan overvalued, undervalued, atau sudah sesuai harganya.

Beberapa model penilaian telah disusun untuk membantu kita menghitung nilai saham. Hal ini menyertakan model deviden yang menitikberatkan pada nilai saat ini dari pendapatan yang diharapkan, dan model asset menitikberatkan pada nilai saat ini dari asset perusahaan. Dalam bukunya “How To Make Money In Stock” karya William O’Neil, denga metoda CAN SLIM maka analisa fundamental dapat memberikan informasi-informasi penting mengenai :

  1. Kinerja pertumbuhan sebuah perusahaan, dengan meneliti laba per lembar saham dalam per triwulan perusahaan tersebut.
  2. Kemampuan perusahaan untuk tumbuh dalam net income, dan penjualan, serta menunjukan bahwa perusahaan mampu tumbuh dengan sehat setelah memenuhi kewajiban jangka pendek, serta pembayaran kewajibannya termasuk bunga pinjaman / obligasi jika ada.
  3. Produk baru, manajemen baru, nilai harga tertinggi yang selalu dicapai. Perhatikan ada atau tidaknya produk/jasa baru, manajemen baru, kondisi industri yang konsisten dengan pembenahannya.
  4. Saham perusahaan yang laju kenaikan volumenya pesat dan diimbangi dengan nilai sahamnya yang selalu bergerak meningkat meninggalkan ruang konsolidasinya.
  5. Membeli saham-saham unggulan terbaik, hindari saham-saham “teri”. Belilah saham dari peusahan yang paling handal dibidangnya, serta bandingkanlah kekuata harga relatif bagi saham-saham unggulan terbaik.
  6. Perusahaan yang mendapatkan dukungan dari institutional pilihlah pula perusahaan yang mengijinkan para managernya ikut memegang saham perusahaan tersebut.
  7. Perusahaan yang mempunyai arah pasar dengan cara meninterpretasikan indeks-indeks harian bursa, pergerakan harga dan volume perdagangan, dan langkah-langkah responsive saham-saham unggulan.

Dari uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  • Pilihlah hanya saham-saham unggulan berdasarkan kinerja yang telah teruji, bandingkan dengan sector yang sama, kemudian bandingkan antara saham disektor yang lain.
  • Tentukan waktu yang tepat untuk beli atau jual berdasarkan grafik riwayat teknikal / chart.
  • Dalam analisa fundamental tidak mengenal kata terlambat.
  • Ingat!! Bahwa hanya market – lah yang selalu benar, maka ikutilah petunjuk yang diberikan oleh market.

Pinterest

Share with Your Friend

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *